Air kurang sehat, akan mudah kelihatan secara kasat mata dan kalau terasa tidak sehat perut akan mual dan seterusnya……, tapi udara sangat sulit dilihat bahkan asapnya juga. Padahal kedua hal tersebut sama penting dan selalu kita butuhkan setiap waktu (bahkan setiap detik). Kehati-hatian akan air, untuk memperoleh air yang lebih bersih sudah dilakukan banyak orang, tetapi untuk menghindari udara yang tercemar atau memperoleh udara yang bersih, banyak orang masih tidak mau tau (cuek). Padahal akibatnya sama / mirip antara resiko tercemar air dengan tercemar udara.
Pencemaran udara berasal dari asap kendaraan bermotor dan pabrik meliputi HC, SOx, NOx, COx, partikel (debu) dan logam berat (timah hitam, Pb). Untuk HC, SOx, NOx, COx, partikel (debu) resiko yang ditimbulkan adalah pernafasan (paru-paru), iritasi mata, pada kadar tertentu tubuh masih mampu untuk menetralkannya. HC, SOx, NOx, COx, dan partikel (debu) yang berlebihan (tiap hari kena asap kendaraan) juga memberikan resiko berbahaya pada paru-paru dan kulit. Kemampuan parau-paru mengolah udara sangatlah terbatas. Apabila tiap hari menerima udara kotor tentunya paru-paru lama-lama tidak kuat, itu yang berbahaya. Yang sangat buruk adalah Pb, logam berat ini sulit terurai dalam tubuh, pada kadar tertentu akan memberikan resiko pada tubuh. Memang belum banyak penelitian tentang resiko pencemaran logam berat (Pb) pada tubuh. Walau kata pemerintah Pb sudah dikurangi/dihilangkan, tetapi ternyata diganti dengan logam lain, yang tentunya juga berbahaya bagi manusia.
Tetapi untuk pencemaran logam berat pada air sudah banyak contohnya yaitu di Buyat-Sulut, Minamata Jepang dan lain-lain. Pada air resikonya adalah dapat tersimpan pada orangnya, kemudian setelah dewasa (puluhan tahun berikutnya) tanpa tahu sebabnya kena sakit kanker, mungkin kanker karena tumpukan logam selama bertahun-tahun. Atau resiko pada keturunan, dapat berupa gangguan otak, mental atau bahkan fisik (bersifat resesif, kita sehat anak sakit).
Kita, anak kita, sehari minimal 1 jam di jalan (ke sekolah, ke kantor atau lainnya), dari pengamatan hampir semua anak dan orang tua (yang naik motor) tidak melindungi hidungnya dari udara kotor jalan. Laporan (kompas, 12 mei 05) data dari KPDL kota Yogyakarta, beberapa perempatan di kota sudah tercemar HC melebihi ambang batas, untuk Pb memang masih kurang dari ambang batas tetapi tetap memberi resiko. Kalau anak dan orang tua sehari 1 jam (apalagi Pb), sebulan minimal kita menghirup 25 jam udara kotor, dan kumulatif setahun dan seterusnya terus kan jadi kurang sehat. Tentunya sekarang kota yogya dan juga kota lainnya di Indonesia lebih tercemar lagi kan.
Langkah aman dimulai dari diri sendiri, langkah ini hanya meminimalkan resiko, lindungi diri, anak dan keluarga. Saat naik motor pakailah penutup hidung, dapat berupa saputangan, sleyer, masker atau lainnya.
HidUp aDaLaH PiLiHaN, semua TerSerAH aNda
KeSEhAtAn anDa dAn anaK ANda adaLaH inVEstAsi MasA DePAn AnAK andA.
Ketawang ALami, Jogja
Burhan (pemerhati lingkungan)
Kamis, 06 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar