Barangkali bagi makhluk Tuhan (yang tidak bernyawa) akan sulit untuk bertutur sapa secara langsung, bahkan sangat mustahil. Bagi mereka berbuat sesuai aturan Tuhan (Hukum Keteraturan) sudah merupakan susuatu yang sangat dinikmati dan disyukurinya. Hujan sebagi salah satu makhluk Tuhan (yang tidak bernyawa, mungkin bernyawa dalam bentuk lain) tentunya tidak dapat protes ataupun bertukar pendapat kalau dia (hujan) disalahkan, dicuekin ataupun dibenarkan. Untuk hal ini, diperlukan tugas manusia (sebagai makhluk bernyawa dan pilihan Tuhan) untuk mampu menjelaskan apa sebenarnya kemauan Hujan tersebut. Tentunya hal ini, perlu dilakukan dengan menggunakan atau memahami hukum-hukum keteraturan alam, dari yang paling sederhana sampai yang sangat rumit.
Keteraturan alam tentang hujan dapat dijelaskan dari yang paling sederhana. Misalnya bagaimana dengan hujan akan menghidupkan tanaman, dengan hujan katak akan riang gembira, dengan hujan debu di jalan jadi bersih dan lain-lain. Sampai keteraturan alam tentang hujan yang rumit atapun sangat rumit, misalnya mengapa air bisa menjadi awan hitam dan terus menjadi hujan, mengapa sini hujan dan daerah tetangga tidak hujan, dan lain-lain yang lebih-lebih rumit lagi. Tentunya tulisan ini tidak ingin menjelaskan sesuatu yang rumit, tetapi yang sederhana saja.
Hujan sebagai bagian keteraturan alam, dapat katakan hujan itu rahmad. Mengapa rahmad, karena selalu dinanti-nantikan, hal ini dapat dilihat pada beberapa contoh dibawah ini,
beberapa ayat dalam Al Qur’an selalu dikatakan dengan hujan, tanaman akan tumbuh subur dan tumbuhnya air untuk manusia. Jadi hujan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. (hanya satu ayat di surat Al Baqoroh yang mengatakan hujan sangat lebat dan halilintar yang akan membuat bumi gelap gulita)
apabila lama musim kemarau, umat muslim dianjurkan sholat Istiqo’
petani selalu menunggu-nunggu hujan biasa, deras atau hujan apapun asal padinya/ tanamannya terairi. (bahkan kadang-kadang pakai upacara sajen segala biar turun hujan, walau dilarang agama)
di India, bahkan film-film India mesti ada hujannya, dan mereka sangat senang sekali datang hujan. Hal tersebut juga berlaku dibelahan bumi lainnya.
Harusnya air hujan sebisa mungkin di tahan didaratan, bisa dalam bentuk waduk, situ , kolam atau sumur resapan dan lainnya
Akan sangat salah bila sekarang, orang sudah menganggap hujan adalah bencana. Menurut saya, kasihan malaikat penurun hujan, sudah capek-capek nurunkan hujan, ee sama manusia dipaido dan bahkan disalahkan. Konsep pemerintah awas hujan,,,awas bencana, mempengaruhi polese / sikap / konsep pembangunan, yang mencoba segera mungkin air hujan dibuang ke laut.
Kalau terjadi sesuatu akibat hujan (misalnya banjir, tanah longsor), jangan salahkan hujannya. Itu kebiasaan yang tidak baik, terbiasa menyalahkan pihak lain (baca buku : jangan salahkan kodok). Salahkan manusianya sendiri yang buang sampah sembarangan, yang tidak memelihara saluran air-sungai, yang buat rumah tidak pakai resapan dan lain-lain. Tentunya hal ini tidak berlaku (pengecualian untuk hujan badai-sangat lebat disertai angin topan), mungkin hujan badai dapat / boleh dikatakan bencana bahkan mngkin adzab.
Maka mulailah teman-teman,,,,,hargailah hujan...kata aa gym mulailah sekarang juga,,,,mulailah dari diri sendiri,,mulailah yang kecil kecil....Andai saudara punya rumah buatlah sumur resapannya di halaman rumah or buat taman yang meresapkan air or jangan buang sampah sembarangan or lainnya
NB, mengacu soal ulangan umum semester II Pengetahuan Alam kls 1 SD, soal di ulangan anak saya.
1. Apabila dalam kurikulum dikatakan hujan deras menyebabkan banjir (melihat pemaparan di atas tentunya itu adalah sesuatu yang salah besar), tentunya (bila perlu) seorang guru dapat membuat penjelasan sendiri (walau berbeda) dari sumber dan logika yang lebih sesuai.
2. Anak seharusnya sejak dini diajarkan sesuatu tentang alam dengan porsinya, misalnya tidak dilatih menyalahkan hujan (bahkan mungkin dapat menyalahkan Tuhan, karena hujan buatan Tuhan). Yang dilatih adalah mencoba mengoreksi diri sendiri, misalnya karena sampah mampet di sungai, buat saluran tidak benar, dan lain-lain.
3. Dari sini, bukan bermaksud membenarkan atau menyalahkan soal dan jawaban soal tersebut, tetapi untuk pemahaman-pemahanan selanjutnya agar lebih mengikuti pola-pola alam ciptaan Allah.
4. Terima kasih atas perhatiannya, bersambung…………
Hormat kami,
Burhan, pemerhati lingkungan (air-udara dan sampah)
Rabu, 05 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar