Ada apa dengan “Jum’atan” seri 1
Surat terbuka (awal januari 2008)
Oleh Burhan Barid (pernah menjadi anggota IPM Karanganyar, tahun 80an)
Kepada :
- Pimpinan Muhammadiyah (PDM dimanapun), berlaku di seluruh Indonesia
- Majelis Tablig or Dakwah Muhammadiyah
- dan yang mengaku sebagai warga Muhammadiyah, siapa saja dan dimana saja
Assalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakaatuh
Pertama-tama saya memohon permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas tulisan ini. Mungkin tulisan saya ini agak berbeda pendapat dengan mas atau bapak-bapak semuanya tentang pemahaman ini. Memang pengetahuan saya tentang aspek jum’atan sangatlah terbatas apalagi detailnya pasti sangat-sangat terbatas, tetapi saya mencoba urun rembug. Secara khusus membahas perkembangan khutbah jumat yang menurut pengamatan saya baru sebatas kewajiban saja. Memang kayak main bola,……saya bisanya hanya sebagai supporter kalau main bola pasti dak bisa. Tapi sepakbola nggak akan menarik kalau tidak ada supporternya. Walau supporter seperti saya bisanya ya…..gawe rame to…… isoe…tepuk2 – komentar - hu..hu…tepuk2 lagi ya itu tok. Tapi yang dikomentari ini hanya masalah umum dan esensi pendapat saya tok,…tidak sampai jauh-jauh.
Khutbah jumat (jumatan) sekarang (secara nasional atau daerah bahkan dusun) umumnya memang sudah tidak menarik blas lagi pendalaman keilmuannya dan peningkatan semangatnya. Makanya mengapa yang hadir mendengarkan ceramah jumat (>50%) selalu ngantuk….tentunya ini termasuk saya
Jadi pahala khotib baru hanya membantu orang2 yang sulit tidur,,,,,menjadi mudah tidur pas dengarin ceramah jumat….he..he..koq gitu yaaa.
Saya juga sudah membaca secara tuntas di ‘Suara Muhammadiyah’ dgn tema ‘Mengapa Jum’atan tidak menarik’ tahun 2006-2007. Pembahasan di SM itu masih sebatas strategis bukan taktis, sehingga solusinya belum begitu membumi. Pembahasan di SM itu belum menyentuh akar masalah sehingga solusinya juga masih mengawang awang. Jadi menurut saya, tulisan tentang ‘jumatan’ di SM belum ‘mengena’.
Tentunya maksud firman Allah tentang jumatan, bukan hanya sekedar kewajiban,..tetapi lebih dari itu. Agar setiap sepekan sekali masyarakat muslim lebih mengingat Allah dan lebih semangat hidupnya. Jadi bukan hanya kewajiban saja.
Semua pembahasan ini hanya berdasar pemahaman dan pengamatan pribadi saya sendiri dengan analisis sesuai keterbatasan ketauan saya tentang apa itu jumatan
I. Sekilas Jumatan, sebatas pengamatan saya
Tulisan ini tentunya hanya membahas metodologinya saja (tentunya tanpa mengotak atik rukun jum’at). Beberapa hal sekilas yang saya perhatikan misalnya :
1. sebagian besar yang hadir di jumatan saat khutbah, tiduran sambil duduk. Jadi kasihan kan kalau jemaahnya tidur semua. Jadi jangan salahkan jemaah, koreksi diri dong pengkutbahnya, apakah sudah tidak menarik???
2. setiap setelah pulang jumatan, dari berbagai obrolan tidak ada satupun yang berkesan dari kutbah jumat (mungkin tidur kalik,,ya,,)
3. Materi penceramah, masih berkutat yang itu2 saja…..harusnya itu2 aja boleh,,tetapi metodologinya yang baru dong
4. Pengkutbah dan takmir tidak ada kesepakatan materi, sehingga materi seperti kapita selekta saja,,,,,kadang asal rame dibicarakan ya itulah materinya.
5. waktu khutbah umumnya sangat panjang,…….tambah ngantuk dong
6. tidak ada satupun jemaah berubah setelah jumatan
7. jadi jumatan just sebagai kewajiban saja,,,,tidak lebih,,,mengapa yaaa
II. Mengapa membosankan
Kayaknya yang bosan khutbahnya,,,saya tok ya….terbukti saya selalu saja ngantuk. Eh ternyata setelah sekilas saya tanya jemaah yang lain juga seperti itu….tidak ada hal yang baru,,,,,ya lebih baik tidur,,,,,,mumpung ada obat pengganti lelah. Beberapa hal mengapa membosankan misalnya :
1. waktu khutbah yang luama
2. intonasinya datar2 aja
3. materi khutbah itu2 aja,,,,tidak membangkitkan apapun,,,,bahkan cenderung membosankan
III. Seperti apa kira2 jum’atan itu
Sekilas saya liat jumatan yang menarik itu ya seperti di IRAN, dimana setelah jumatan masyarakat tersemangatkan secara politik. Lain Iran lain Indonesia, kalau di Indonesia mungkin bukan politik, tetapi hal agama-social-ekonomi-budaya atau lainnya (non politik lah). Dalam bayangan saya itu materi jumatan berupa keimanan ++ (+ ekonomi or + budaya or + social dll). Materi akan menarik terlihat setelah jemaah keluar masjid, jadi seharusnya jemaah begitu keluar masjid menjadi pribadi baru. Kira2 adalah :
1. Jumatan itu seharusnya dianggap sebagai sekolahnya (agama) masyarakat, sehinga karena sekolah maka harus ada kurikulumnya. Kurikulum yang disepakati bersama antara pengkhutbah dan takmir masjid. Sehingga bisa jadi setelah jumatan dilanjutkan dengan diskusi.
2. Terghirohkan-tersemangatkan hidupnya, kalau pelajar ya semangat belajar kalau pekerja ya semangat bekerja, kalau pengangguran ya semangat cari kerja, kalau orang tua ya semangat hidup bermanfaat dan lain2
3. Jemaah setiap selesai jumatan ada yang berubah, menjadi pribadi yang benar2 baru / baik. (tentunya ini maksudnya berubah menjadi baik) misalnya tambah sodaqohnya, sosialnya, ekonominya dll
4. pada jumat minggu berikutnya terbukti semakin sedikit yang ngantuk, semakin rajin datang, bila perlu setelah jumatan ada ide2 baru untuk kebaikan Islam
5. Adanya kurikulum jumatan yang disepakati oleh masjid
IV. Apa yang harus dilakukan
Tentunya untuk mencapai hal tersebut perlu beberapa langkah dan kerjasama berbagai pihak. Karena saya warga Muhammadiyah tentunya saya usulkan hal ini ke majelis Tablig or Dakwah.
Majelis Tabligh or Dakwah
Pumpung belum terlambat, tentunya banyak hal yang bisa dilakukan oleh majelis ini. Selama ini pintu tablig masih berupa pengajinan konvensional. Sebenarnya pintu itu sudah disediakan oleh Tuhan berupa jumatan ini, hanya kita yang masih bingung membuat jumatan yang menarik. Memang di SM sudah dibahas, tetapi pembahasanya kurang membumi, aplikasi dilapangannya membingungkan dan cenderung tidak jelas.
Beberapa usulan yang perlu dilakukan oleh majelis ini :
a. Perlu penataran paradigma baru bagi penceramah (bukan penataran yang biasa dilakukan). Ya perlu dilakukan Penataran ++
b. Pelatihan manajemen masjid (liat tulisan saya dengan judul manajemen masjid)
c. Mengembangkan Rencana Besar (STrategis) Kurikulum Jumatan, yang nanti sub kurikulumnya akan digunakan oleh talmir2 masjid. Dengan ini, secara tidak langsung Majelis ini bisa mengarahkan (kebaikan) masyarakat ke arah yang diinginkan organisasi.
d. Bila perlu mengarahkan setiap masjid memiliki kurikulum yang berlainan, sehingga bila jemaah ingin cari ilmunya maka akan datang kesitu. Kurikulum yang sama juga boleh, semua tergantung kesepakatan.
e. Pelatihan bagi takmir masjid, bagaimana caranya membuat kurikulum jumatan yang menarik, padat dan mengena.
f. Pelatihan bagi pengkhutbah bagaimana memberi ceramah yang menarik (tanpa harus lucu, karena tidak boleh lucu), bagaimana intonasi suaranya, bagaimana membuat padat tapi mengena dan lain2
g. Perlunya pemetaan masjid tentunya masjid kota akan berbeda dengan masjid desa.
h. Majelis perlunya memberi contoh, bagaimana ceramah yang baik dan tepat. Jadi bapak/ibu/mas yang di majelis ini harusnya berkaca, mengoreksi, memperbaiki diri dan kemudian memberi contoh. Karena jujur aja, kadang beliau beliau sendiri tidak menyadari kalau kadang materinya membosankan.
i. Perlunya mengembangkan selebaran2 yang menarik di masjid2 untuk menetralisir apabila penceramah tidak menarik.
Takmir Masjid
Takmir sebagai pengelola masjid, tentunya tidak boleh berdiam diri. Takmir adalah jembatan antara jemaah dan imam masjid (or penceramah). Beberapa hal yang perlu dilakukan
a. Selama ini yang dilakukan hanya siapa yang memberi ceramah, belum menyentuh materi apa yang harus diisikan. Seharusnya dalam 1tahun (52 minggu) or 1 semeter (26 minggu) dibuat kurikulum, jemaah mau diajak kemana or diprioritaskan materi apa,,,(missal karena jemaah belum tau banyak tentang zakat, maka semester ini sebagian besar minggunya tentang zakat dll)
b. Anggap saja masjid seperti sekolah kecil, dan jumatan adalah kegiatan utama masjid maka perlu ada kurikulum jumatan. Yang materinya disepakati bersama
c. Perlu membuat kesepakatan waktu lamanya khutbah jumat
d. Perlu dikoreksi or dievaluasi tentang jumatan pada setiap semester
Penceramah Jum’at
Jadi konsepnya penceramah itu juga sebagai guru maka yang harus dilakukan adalah :
a. Materi yang diberikan sesuai kurikulum yang disepakati
b. Waktu pemberian ceramah disesuaikan dengan waktu yang disepakati
c. Jangan bertele2, isinya to the point aja
d. Jangan lupa juga beri motivasi hidup pada jemaah
e. Intonasi suara juga perlu diperhatikan
Pendengar ceramah
Pendengar adalah murid, bisa jadi sebagian murid akan mempersiapkan,
a. Karena ada kurikulumnya (ditampilkan didinding) bisa jadi sebagian jemaah sudah siap2 mendengarkan dan bila perlu setelah jumatan dia siap bertanya
b. Ikuti rukun dan syarat sebagai murid ‘jumatan’
V. Kesimpulan
Buatlah jumatan sebagai salah satu pintu utama dakwah, sehingga perlu dibuat semenarik mungkin. Tandanya menarik adalah jemaah tidak ngantuk dan begitu setelah jumatan, keluar menjadi pribadi yang baru – semangat – semakin baik.
Mungkin ada kalimat yang kurang berkenan dan tidak tepat, itu dari saya pribadi dan saya mohon maaf sebesar-besarnya sekali lagi atas tulisan saya ini. Saya sangat berharap tentang kemajuan ‘jum’atan dimanapun berada. Kata teman saya “orang yang tidak perhatian itu tidak sayang tetapi orang yang perhatian (bahkan kritis yang bukan menjatuhkan tetapi memberi masukan) malah sayang”. Terimakasih sebesar-besarnya.
Wassalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakaatuh
Bersambung suatu saat,
Hormat kami,
Burhan Barid,
kampungku tegalasri kab karanganyar
Jumat, 04 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
Cocok mas,.. saya setuju itu. memang perlu perubahan drastis untuk ibadah jum'at. dari hasil survey saya tahun 2006 ternyata lebih dari 50% jamaah tertidur !! saat sholat jum'at. http://abuafi.blogspot.com/2006/06/gebrak-jumat.html.
Hayoo Gebrak Jum'atan..
terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang "Bagaimana Menjadi Khatib Efektif?"
silakan berkunjung ke:
http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/bagaimana-menjadi-khatib-efektif-1-of-2.html
salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/
Posting Komentar