Rabu, 17 Oktober 2007

ANTARA JAM 06.00 SAMPAI JAM 07.00 PAGI YANG PENUH TOLERANSI YANG SALAH KAPRAH

Suatu pagi yang cerah, hari senin di salah satu perempatan bagian barat yogya, yang pada jam itu yang dilewati ratusan motor dan puluhan mobil. Kendaraan tersebut bergerak menuju pusat kota dengan tujuan yang sama yaitu sekolah atau bekerja. Setiap orang ingin sampai pada jam yang sama dengan memanfaatkan waktu yang sempit. Sehingga setiap orang ingin berlomba-lomba asal tidak terlambat sampai tujuan, dengan sedikit mengindahkan orang lain, aturan lalulintas dan budaya tertib.

Kejadian umum
Kejadian tersebut sebenarnya merupakan fenomena setiap pagi, pada jam kerja, di setiap titik jalan kota Yogyakarta ataupun kota lainnya. Fenomena ini dilakukan setiap orang dengan sengaja atau tidak sengaja. Beberapa kejadian yang sempat teramati misalnya anak yang diantar orang tua sekolah dengan sepeda motor tidak pakai helm, berboncengan lebih dari dua orang, melanggar lampu merah detik pertama, antri bukan pada jalurnya, dan lain-lain. Ketaatan yang terabaikan, asal diri sendiri, tidak memperdulikan sekitarnya.

Analisis kejadian
Kejadian tersebut hanya kisah di pagi hari, dimana setiap orang ingin bekerja atau belajar. Sepenggal kisah ini dapat membuyarkan pola aturan pendidikan yang akan didapatkan pada jam-jam berikutnya. Anak sekolah selalu dianjurkan datang tidak terlambat, dan aturan-aturan yang lain. Gambaran kontras yang ada di jalanan dengan yang di sekolah akan membuat gundah hatinya. Karena pembelajaran di jalanan sesuatu yang mudah dan cepat untuk dicerna. Pembelajaran ini terjadi secara alami dengan menggunakan atas nama tidak boleh terlambat sampai sekolah atau kantor. Yang mula-mula dilihat, dirasakan, kemudian dilakukan sebagai sesuatu yang biasa. Sebagai suatu yang biasa menjadikan bahwa melakukan tersebut tidak salah.

Menerapkan disiplin tidak terlambat di sekolah dengan mengabaikan disiplin jalanan dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang tidak memasukkan unsur keterpaduan pola pikir manusia, tetapi hanya memasukkan unsur disiplin parsial saja.

Yang kemudian mungkin suatu saat akan pula diterapkan oleh generasi berikutnya suatu saat nanti. Kejadian tersebut hanya merupakan sepenggal kisah kebebasan yang berlebih atau dapat dikatakan toleransi salah kaprah yang dilakukan tanpa aturan yang ketat. minimal enam hari dalam seminggu.
Melatih disipiln diri tetapi tidak melatih disiliplin sistem

diajarkan kedisiplinan dalam hal tugas atuapun aturan-aturan sekolah, begitu pula bagi yang di perkantoran atau pabrik.

Pembelajaran budaya di jalanan yang cepat berubah menuju arah negative membuat pendidikan sekolah yang memberikan etika keteraturan, menghargai orang, ketaatan dan antri terasa kurang ada artinya. Pola pendidikan sekolah yang melakukan penilaian budaya tersebut dalam kurikulum, tentunya belum banyak menyentuh aspek kejadian-kejadian di lapangan. Sehingga membuat bangsa ini banyak kehilangan budaya-budaya positif tersebut. Pada masa lalu, pembelajaran lebih banyak diperoleh dari budaya keluarga dalam melakukan pembudayaan generasi

Kedisiplinan di sekolah yang menyenangkan
…………..bagaimana tuuu

Pembelajaran tentang Toleransi pada ketidaktaatan yang salah kaprah. Pembelajaran Langsung dari ketidakdisipilan………bagaimana tuuu

Tidak ada komentar: