Kamis, 06 Maret 2008

oooh...Udara.....uDARA....

Air kurang sehat, akan mudah kelihatan secara kasat mata dan kalau terasa tidak sehat perut akan mual dan seterusnya……, tapi udara sangat sulit dilihat bahkan asapnya juga. Padahal kedua hal tersebut sama penting dan selalu kita butuhkan setiap waktu (bahkan setiap detik). Kehati-hatian akan air, untuk memperoleh air yang lebih bersih sudah dilakukan banyak orang, tetapi untuk menghindari udara yang tercemar atau memperoleh udara yang bersih, banyak orang masih tidak mau tau (cuek). Padahal akibatnya sama / mirip antara resiko tercemar air dengan tercemar udara.
Pencemaran udara berasal dari asap kendaraan bermotor dan pabrik meliputi HC, SOx, NOx, COx, partikel (debu) dan logam berat (timah hitam, Pb). Untuk HC, SOx, NOx, COx, partikel (debu) resiko yang ditimbulkan adalah pernafasan (paru-paru), iritasi mata, pada kadar tertentu tubuh masih mampu untuk menetralkannya. HC, SOx, NOx, COx, dan partikel (debu) yang berlebihan (tiap hari kena asap kendaraan) juga memberikan resiko berbahaya pada paru-paru dan kulit. Kemampuan parau-paru mengolah udara sangatlah terbatas. Apabila tiap hari menerima udara kotor tentunya paru-paru lama-lama tidak kuat, itu yang berbahaya. Yang sangat buruk adalah Pb, logam berat ini sulit terurai dalam tubuh, pada kadar tertentu akan memberikan resiko pada tubuh. Memang belum banyak penelitian tentang resiko pencemaran logam berat (Pb) pada tubuh. Walau kata pemerintah Pb sudah dikurangi/dihilangkan, tetapi ternyata diganti dengan logam lain, yang tentunya juga berbahaya bagi manusia.
Tetapi untuk pencemaran logam berat pada air sudah banyak contohnya yaitu di Buyat-Sulut, Minamata Jepang dan lain-lain. Pada air resikonya adalah dapat tersimpan pada orangnya, kemudian setelah dewasa (puluhan tahun berikutnya) tanpa tahu sebabnya kena sakit kanker, mungkin kanker karena tumpukan logam selama bertahun-tahun. Atau resiko pada keturunan, dapat berupa gangguan otak, mental atau bahkan fisik (bersifat resesif, kita sehat anak sakit).
Kita, anak kita, sehari minimal 1 jam di jalan (ke sekolah, ke kantor atau lainnya), dari pengamatan hampir semua anak dan orang tua (yang naik motor) tidak melindungi hidungnya dari udara kotor jalan. Laporan (kompas, 12 mei 05) data dari KPDL kota Yogyakarta, beberapa perempatan di kota sudah tercemar HC melebihi ambang batas, untuk Pb memang masih kurang dari ambang batas tetapi tetap memberi resiko. Kalau anak dan orang tua sehari 1 jam (apalagi Pb), sebulan minimal kita menghirup 25 jam udara kotor, dan kumulatif setahun dan seterusnya terus kan jadi kurang sehat. Tentunya sekarang kota yogya dan juga kota lainnya di Indonesia lebih tercemar lagi kan.
Langkah aman dimulai dari diri sendiri, langkah ini hanya meminimalkan resiko, lindungi diri, anak dan keluarga. Saat naik motor pakailah penutup hidung, dapat berupa saputangan, sleyer, masker atau lainnya.
HidUp aDaLaH PiLiHaN, semua TerSerAH aNda
KeSEhAtAn anDa dAn anaK ANda adaLaH inVEstAsi MasA DePAn AnAK andA.
Ketawang ALami, Jogja
Burhan (pemerhati lingkungan)

Rabu, 05 Maret 2008

HUJAN ADALAH RAHMAD (fenomena alam seri 1)

Barangkali bagi makhluk Tuhan (yang tidak bernyawa) akan sulit untuk bertutur sapa secara langsung, bahkan sangat mustahil. Bagi mereka berbuat sesuai aturan Tuhan (Hukum Keteraturan) sudah merupakan susuatu yang sangat dinikmati dan disyukurinya. Hujan sebagi salah satu makhluk Tuhan (yang tidak bernyawa, mungkin bernyawa dalam bentuk lain) tentunya tidak dapat protes ataupun bertukar pendapat kalau dia (hujan) disalahkan, dicuekin ataupun dibenarkan. Untuk hal ini, diperlukan tugas manusia (sebagai makhluk bernyawa dan pilihan Tuhan) untuk mampu menjelaskan apa sebenarnya kemauan Hujan tersebut. Tentunya hal ini, perlu dilakukan dengan menggunakan atau memahami hukum-hukum keteraturan alam, dari yang paling sederhana sampai yang sangat rumit.
Keteraturan alam tentang hujan dapat dijelaskan dari yang paling sederhana. Misalnya bagaimana dengan hujan akan menghidupkan tanaman, dengan hujan katak akan riang gembira, dengan hujan debu di jalan jadi bersih dan lain-lain. Sampai keteraturan alam tentang hujan yang rumit atapun sangat rumit, misalnya mengapa air bisa menjadi awan hitam dan terus menjadi hujan, mengapa sini hujan dan daerah tetangga tidak hujan, dan lain-lain yang lebih-lebih rumit lagi. Tentunya tulisan ini tidak ingin menjelaskan sesuatu yang rumit, tetapi yang sederhana saja.
Hujan sebagai bagian keteraturan alam, dapat katakan hujan itu rahmad. Mengapa rahmad, karena selalu dinanti-nantikan, hal ini dapat dilihat pada beberapa contoh dibawah ini,
beberapa ayat dalam Al Qur’an selalu dikatakan dengan hujan, tanaman akan tumbuh subur dan tumbuhnya air untuk manusia. Jadi hujan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. (hanya satu ayat di surat Al Baqoroh yang mengatakan hujan sangat lebat dan halilintar yang akan membuat bumi gelap gulita)
apabila lama musim kemarau, umat muslim dianjurkan sholat Istiqo’
petani selalu menunggu-nunggu hujan biasa, deras atau hujan apapun asal padinya/ tanamannya terairi. (bahkan kadang-kadang pakai upacara sajen segala biar turun hujan, walau dilarang agama)
di India, bahkan film-film India mesti ada hujannya, dan mereka sangat senang sekali datang hujan. Hal tersebut juga berlaku dibelahan bumi lainnya.
Harusnya air hujan sebisa mungkin di tahan didaratan, bisa dalam bentuk waduk, situ , kolam atau sumur resapan dan lainnya
Akan sangat salah bila sekarang, orang sudah menganggap hujan adalah bencana. Menurut saya, kasihan malaikat penurun hujan, sudah capek-capek nurunkan hujan, ee sama manusia dipaido dan bahkan disalahkan. Konsep pemerintah awas hujan,,,awas bencana, mempengaruhi polese / sikap / konsep pembangunan, yang mencoba segera mungkin air hujan dibuang ke laut.
Kalau terjadi sesuatu akibat hujan (misalnya banjir, tanah longsor), jangan salahkan hujannya. Itu kebiasaan yang tidak baik, terbiasa menyalahkan pihak lain (baca buku : jangan salahkan kodok). Salahkan manusianya sendiri yang buang sampah sembarangan, yang tidak memelihara saluran air-sungai, yang buat rumah tidak pakai resapan dan lain-lain. Tentunya hal ini tidak berlaku (pengecualian untuk hujan badai-sangat lebat disertai angin topan), mungkin hujan badai dapat / boleh dikatakan bencana bahkan mngkin adzab.
Maka mulailah teman-teman,,,,,hargailah hujan...kata aa gym mulailah sekarang juga,,,,mulailah dari diri sendiri,,mulailah yang kecil kecil....Andai saudara punya rumah buatlah sumur resapannya di halaman rumah or buat taman yang meresapkan air or jangan buang sampah sembarangan or lainnya

NB, mengacu soal ulangan umum semester II Pengetahuan Alam kls 1 SD, soal di ulangan anak saya.
1. Apabila dalam kurikulum dikatakan hujan deras menyebabkan banjir (melihat pemaparan di atas tentunya itu adalah sesuatu yang salah besar), tentunya (bila perlu) seorang guru dapat membuat penjelasan sendiri (walau berbeda) dari sumber dan logika yang lebih sesuai.
2. Anak seharusnya sejak dini diajarkan sesuatu tentang alam dengan porsinya, misalnya tidak dilatih menyalahkan hujan (bahkan mungkin dapat menyalahkan Tuhan, karena hujan buatan Tuhan). Yang dilatih adalah mencoba mengoreksi diri sendiri, misalnya karena sampah mampet di sungai, buat saluran tidak benar, dan lain-lain.
3. Dari sini, bukan bermaksud membenarkan atau menyalahkan soal dan jawaban soal tersebut, tetapi untuk pemahaman-pemahanan selanjutnya agar lebih mengikuti pola-pola alam ciptaan Allah.
4. Terima kasih atas perhatiannya, bersambung…………
Hormat kami,
Burhan, pemerhati lingkungan (air-udara dan sampah)

Jumat, 04 Januari 2008

urun rembug "JUM'ATAN"

Ada apa dengan “Jum’atan” seri 1
Surat terbuka (awal januari 2008)
Oleh Burhan Barid (pernah menjadi anggota IPM Karanganyar, tahun 80an)

Kepada :
- Pimpinan Muhammadiyah (PDM dimanapun), berlaku di seluruh Indonesia
- Majelis Tablig or Dakwah Muhammadiyah
- dan yang mengaku sebagai warga Muhammadiyah, siapa saja dan dimana saja


Assalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakaatuh

Pertama-tama saya memohon permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas tulisan ini. Mungkin tulisan saya ini agak berbeda pendapat dengan mas atau bapak-bapak semuanya tentang pemahaman ini. Memang pengetahuan saya tentang aspek jum’atan sangatlah terbatas apalagi detailnya pasti sangat-sangat terbatas, tetapi saya mencoba urun rembug. Secara khusus membahas perkembangan khutbah jumat yang menurut pengamatan saya baru sebatas kewajiban saja. Memang kayak main bola,……saya bisanya hanya sebagai supporter kalau main bola pasti dak bisa. Tapi sepakbola nggak akan menarik kalau tidak ada supporternya. Walau supporter seperti saya bisanya ya…..gawe rame to…… isoe…tepuk2 – komentar - hu..hu…tepuk2 lagi ya itu tok. Tapi yang dikomentari ini hanya masalah umum dan esensi pendapat saya tok,…tidak sampai jauh-jauh.

Khutbah jumat (jumatan) sekarang (secara nasional atau daerah bahkan dusun) umumnya memang sudah tidak menarik blas lagi pendalaman keilmuannya dan peningkatan semangatnya. Makanya mengapa yang hadir mendengarkan ceramah jumat (>50%) selalu ngantuk….tentunya ini termasuk saya
Jadi pahala khotib baru hanya membantu orang2 yang sulit tidur,,,,,menjadi mudah tidur pas dengarin ceramah jumat….he..he..koq gitu yaaa.

Saya juga sudah membaca secara tuntas di ‘Suara Muhammadiyah’ dgn tema ‘Mengapa Jum’atan tidak menarik’ tahun 2006-2007. Pembahasan di SM itu masih sebatas strategis bukan taktis, sehingga solusinya belum begitu membumi. Pembahasan di SM itu belum menyentuh akar masalah sehingga solusinya juga masih mengawang awang. Jadi menurut saya, tulisan tentang ‘jumatan’ di SM belum ‘mengena’.

Tentunya maksud firman Allah tentang jumatan, bukan hanya sekedar kewajiban,..tetapi lebih dari itu. Agar setiap sepekan sekali masyarakat muslim lebih mengingat Allah dan lebih semangat hidupnya. Jadi bukan hanya kewajiban saja.

Semua pembahasan ini hanya berdasar pemahaman dan pengamatan pribadi saya sendiri dengan analisis sesuai keterbatasan ketauan saya tentang apa itu jumatan

I. Sekilas Jumatan, sebatas pengamatan saya
Tulisan ini tentunya hanya membahas metodologinya saja (tentunya tanpa mengotak atik rukun jum’at). Beberapa hal sekilas yang saya perhatikan misalnya :
1. sebagian besar yang hadir di jumatan saat khutbah, tiduran sambil duduk. Jadi kasihan kan kalau jemaahnya tidur semua. Jadi jangan salahkan jemaah, koreksi diri dong pengkutbahnya, apakah sudah tidak menarik???
2. setiap setelah pulang jumatan, dari berbagai obrolan tidak ada satupun yang berkesan dari kutbah jumat (mungkin tidur kalik,,ya,,)
3. Materi penceramah, masih berkutat yang itu2 saja…..harusnya itu2 aja boleh,,tetapi metodologinya yang baru dong
4. Pengkutbah dan takmir tidak ada kesepakatan materi, sehingga materi seperti kapita selekta saja,,,,,kadang asal rame dibicarakan ya itulah materinya.
5. waktu khutbah umumnya sangat panjang,…….tambah ngantuk dong
6. tidak ada satupun jemaah berubah setelah jumatan
7. jadi jumatan just sebagai kewajiban saja,,,,tidak lebih,,,mengapa yaaa

II. Mengapa membosankan
Kayaknya yang bosan khutbahnya,,,saya tok ya….terbukti saya selalu saja ngantuk. Eh ternyata setelah sekilas saya tanya jemaah yang lain juga seperti itu….tidak ada hal yang baru,,,,,ya lebih baik tidur,,,,,,mumpung ada obat pengganti lelah. Beberapa hal mengapa membosankan misalnya :
1. waktu khutbah yang luama
2. intonasinya datar2 aja
3. materi khutbah itu2 aja,,,,tidak membangkitkan apapun,,,,bahkan cenderung membosankan

III. Seperti apa kira2 jum’atan itu
Sekilas saya liat jumatan yang menarik itu ya seperti di IRAN, dimana setelah jumatan masyarakat tersemangatkan secara politik. Lain Iran lain Indonesia, kalau di Indonesia mungkin bukan politik, tetapi hal agama-social-ekonomi-budaya atau lainnya (non politik lah). Dalam bayangan saya itu materi jumatan berupa keimanan ++ (+ ekonomi or + budaya or + social dll). Materi akan menarik terlihat setelah jemaah keluar masjid, jadi seharusnya jemaah begitu keluar masjid menjadi pribadi baru. Kira2 adalah :
1. Jumatan itu seharusnya dianggap sebagai sekolahnya (agama) masyarakat, sehinga karena sekolah maka harus ada kurikulumnya. Kurikulum yang disepakati bersama antara pengkhutbah dan takmir masjid. Sehingga bisa jadi setelah jumatan dilanjutkan dengan diskusi.
2. Terghirohkan-tersemangatkan hidupnya, kalau pelajar ya semangat belajar kalau pekerja ya semangat bekerja, kalau pengangguran ya semangat cari kerja, kalau orang tua ya semangat hidup bermanfaat dan lain2
3. Jemaah setiap selesai jumatan ada yang berubah, menjadi pribadi yang benar2 baru / baik. (tentunya ini maksudnya berubah menjadi baik) misalnya tambah sodaqohnya, sosialnya, ekonominya dll
4. pada jumat minggu berikutnya terbukti semakin sedikit yang ngantuk, semakin rajin datang, bila perlu setelah jumatan ada ide2 baru untuk kebaikan Islam
5. Adanya kurikulum jumatan yang disepakati oleh masjid


IV. Apa yang harus dilakukan
Tentunya untuk mencapai hal tersebut perlu beberapa langkah dan kerjasama berbagai pihak. Karena saya warga Muhammadiyah tentunya saya usulkan hal ini ke majelis Tablig or Dakwah.
Majelis Tabligh or Dakwah
Pumpung belum terlambat, tentunya banyak hal yang bisa dilakukan oleh majelis ini. Selama ini pintu tablig masih berupa pengajinan konvensional. Sebenarnya pintu itu sudah disediakan oleh Tuhan berupa jumatan ini, hanya kita yang masih bingung membuat jumatan yang menarik. Memang di SM sudah dibahas, tetapi pembahasanya kurang membumi, aplikasi dilapangannya membingungkan dan cenderung tidak jelas.
Beberapa usulan yang perlu dilakukan oleh majelis ini :
a. Perlu penataran paradigma baru bagi penceramah (bukan penataran yang biasa dilakukan). Ya perlu dilakukan Penataran ++
b. Pelatihan manajemen masjid (liat tulisan saya dengan judul manajemen masjid)
c. Mengembangkan Rencana Besar (STrategis) Kurikulum Jumatan, yang nanti sub kurikulumnya akan digunakan oleh talmir2 masjid. Dengan ini, secara tidak langsung Majelis ini bisa mengarahkan (kebaikan) masyarakat ke arah yang diinginkan organisasi.
d. Bila perlu mengarahkan setiap masjid memiliki kurikulum yang berlainan, sehingga bila jemaah ingin cari ilmunya maka akan datang kesitu. Kurikulum yang sama juga boleh, semua tergantung kesepakatan.
e. Pelatihan bagi takmir masjid, bagaimana caranya membuat kurikulum jumatan yang menarik, padat dan mengena.
f. Pelatihan bagi pengkhutbah bagaimana memberi ceramah yang menarik (tanpa harus lucu, karena tidak boleh lucu), bagaimana intonasi suaranya, bagaimana membuat padat tapi mengena dan lain2
g. Perlunya pemetaan masjid tentunya masjid kota akan berbeda dengan masjid desa.
h. Majelis perlunya memberi contoh, bagaimana ceramah yang baik dan tepat. Jadi bapak/ibu/mas yang di majelis ini harusnya berkaca, mengoreksi, memperbaiki diri dan kemudian memberi contoh. Karena jujur aja, kadang beliau beliau sendiri tidak menyadari kalau kadang materinya membosankan.
i. Perlunya mengembangkan selebaran2 yang menarik di masjid2 untuk menetralisir apabila penceramah tidak menarik.

Takmir Masjid
Takmir sebagai pengelola masjid, tentunya tidak boleh berdiam diri. Takmir adalah jembatan antara jemaah dan imam masjid (or penceramah). Beberapa hal yang perlu dilakukan
a. Selama ini yang dilakukan hanya siapa yang memberi ceramah, belum menyentuh materi apa yang harus diisikan. Seharusnya dalam 1tahun (52 minggu) or 1 semeter (26 minggu) dibuat kurikulum, jemaah mau diajak kemana or diprioritaskan materi apa,,,(missal karena jemaah belum tau banyak tentang zakat, maka semester ini sebagian besar minggunya tentang zakat dll)
b. Anggap saja masjid seperti sekolah kecil, dan jumatan adalah kegiatan utama masjid maka perlu ada kurikulum jumatan. Yang materinya disepakati bersama
c. Perlu membuat kesepakatan waktu lamanya khutbah jumat
d. Perlu dikoreksi or dievaluasi tentang jumatan pada setiap semester

Penceramah Jum’at
Jadi konsepnya penceramah itu juga sebagai guru maka yang harus dilakukan adalah :
a. Materi yang diberikan sesuai kurikulum yang disepakati
b. Waktu pemberian ceramah disesuaikan dengan waktu yang disepakati
c. Jangan bertele2, isinya to the point aja
d. Jangan lupa juga beri motivasi hidup pada jemaah
e. Intonasi suara juga perlu diperhatikan

Pendengar ceramah
Pendengar adalah murid, bisa jadi sebagian murid akan mempersiapkan,
a. Karena ada kurikulumnya (ditampilkan didinding) bisa jadi sebagian jemaah sudah siap2 mendengarkan dan bila perlu setelah jumatan dia siap bertanya
b. Ikuti rukun dan syarat sebagai murid ‘jumatan’

V. Kesimpulan
Buatlah jumatan sebagai salah satu pintu utama dakwah, sehingga perlu dibuat semenarik mungkin. Tandanya menarik adalah jemaah tidak ngantuk dan begitu setelah jumatan, keluar menjadi pribadi yang baru – semangat – semakin baik.

Mungkin ada kalimat yang kurang berkenan dan tidak tepat, itu dari saya pribadi dan saya mohon maaf sebesar-besarnya sekali lagi atas tulisan saya ini. Saya sangat berharap tentang kemajuan ‘jum’atan dimanapun berada. Kata teman saya “orang yang tidak perhatian itu tidak sayang tetapi orang yang perhatian (bahkan kritis yang bukan menjatuhkan tetapi memberi masukan) malah sayang”. Terimakasih sebesar-besarnya.

Wassalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakaatuh

Bersambung suatu saat,

Hormat kami,
Burhan Barid,
kampungku tegalasri kab karanganyar

Ada apa dengan ' Muhammadiyah" seri 2

Seri 2
Ada apa dengan “Muhammadiyah”
Surat terbuka (November 2007)
Oleh Burhan Barid (pernah menjadi anggota IPM Karanganyar, tahun 80an)

Kepada :
- Pimpinan Muhammadiyah (PDM), berlaku di seluruh Indonesia
- dan yang mengaku sebagai warga Muhammadiyah, siapa saja dan dimana saja

(studi kasus PDM Karanganyar)

Assalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakaatuh

Bersambung dengan surat terbuka yang pertama (September 2007), ada rasa greget untuk melanjutkan lagi. Karena dengan surat pertama ternyata Muhammadiyah belum berubah, alias masih ‘ tidur ‘ Yang merasa perlu urun rembug lagi, yang mungkin bisa jadi hal ini akan terus menerus saya lakukan. Ayo…bangun…..bangun

Berikutnya saya memohon permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas tulisan ini. Mungkin tulisan saya ini agak berbeda pendapat dengan mas atau bapak-bapak semuanya tentang pemahaman ini. Memang pengetahuan saya tentang aspek muhammadiyah sangatlah terbatas apalagi detailnya pasti sangat-sangat terbatas, tetapi saya mencoba urun rembug. Secara khusus membahas perkembangan Muhammadiyah atau pemudanya sekarang. Memang kayak main bola,……saya bisanya hanya sebagai supporter kalau main bola pasti dak bisa. Tapi sepakbola nggak akan menarik kalau tidak ada supporternya. Walau supporter seperti saya bisanya ya…..gawe rame to…… isoe…tepuk2 – komentar - hu..hu…tepuk2 lagi ya itu tok. Tapi yang dikomentari ini hanya masalah umum dan esensi pendapat saya pribadi tok,…tidak sampai jauh-jauh.

Memang manusia diberi kemampuan Tuhan berbeda-beda, punya kelebihan pada hal tertentu tetapi juga punya kelemahan pada hal yang lainnya. Dalam hal manajemen pengelolaan manusia saya juga amat sangat lemah, ya saya isohe jeplak seperti ini, mohon maaf lagi. Semua pembahasan ini hanya berdasar pemahaman dan pengamatan pribadi saya sendiri dengan analisis sesuai keterbatasan ketauan saya tentang apa itu muhammadiyah. Tentunya kalau ada yang tidak pas ya dari saya sendiri, yang sok jadi suporter.

Bagian I : Mengapa ada tulisan seri 2 (dan bisa jadi ada lanjutannya lagi)

Ternyata Muhammadiyah masih tidur saja……..ntar bisa jadi malah nyenengke malaikat loo,,,,bisa2 dia malaikat ikut2 tidur (tanpa menilai apa yang telah kita lakukan…la bobok). Beberapa hal mengapa masih tidur (analisis saya) :

Pimpinan merasa sudah menikmati kenikmatan ‘tidur’ merasa cukup apa yang telah dilakukan. Mungkin merasa sudah banyak berbuat, padahal stagnan 100%. Secara pribadi saya akui semua pimpinan oke,,,dalam hal ‘pinter’- ‘agamawan’ – ‘ cukup materi’ dan berpengalaman di bidangnya masing-masing. Tetapi mengapa begitu masuk di Muhammadiyah koq jadi “laen”. Dak tau saya……………….
Yang dibutuhkan utamanya menjadi pimpinan Muhammadiyah bukan pinter studinya, bukan pinter agamanya, bukan karena kaya, bukan ketokohannya,,,,tetapi yang lebih utama adalah kemampuan mengelola manajemen ‘SDM’. Jadi kayaknya beliau2 ini pinter, kaya, tokoh tetapi kelihatannya mengelola manajemen SDMnya lemah. Menurut saya tugasnya pimpinan adalah mampu mengelola orang2 yang punya potensi potensi tersebut. Kalau beliau ngak bisa mengelola,,,,,berarti kita telah salah,,,yaitu menyerahkan TUGAS PADA YANG BUKAN AHLINYA. Ntar ditanyai looo,,,sama malaikat……
Dibuktikan yang muda2 haus agama,,,tetapi milih organisasi lain,,,Dibuktikan telah lahirnya sempalan-sempalan ‘Islam’. Hal tersebut ngak boleh MUI or Muhammadiyah nyalahkan mereka…..harusnya ngoreksi diri dulu,,,,,apakah Kita (Muhammadiyah) telah berbuat….atau kita yang membosankan……berarti pimpinan tidur….
Lagi2 pimpinan masih tidur,,,,,Pimpinan hanya sebatas melakukan administrasi dan rutinitas saja kalau ada ide ’masih itu2 aja’. Tugas pimpinan utamanya bukan itu,,,,tetapi IDE, kreatifitas, dan siap apapun,,,kalau ada apa2nya. La yen Cuma kayak gitu,,,,mosok mau disamakan pimpinan OSIS….Bisa jadi loo, kalau dipimpin oleh Ketua OSIS SMPN I Kra, Muhammadiyah lebih maju….maaf lagi
Pimpinan jaman sekarang harusnya tidak alergi terhadap masukan dari siapapun,,,,,terutama dari anak muda. (harus tebal kupingnya)
Masih menggunakan paradigma lama……jaman udah berubah….pak


Bagian II : Masih ada waktu……, belum terlambat

Masih ada waktu, untuk bangun,,,,,berjalan,,,,,dan lari. Beberapa hal atau sebagian kecil yang mungkin bisa membuat bangun misalnya :
Mulai digunakan paradigma baru
Kelompok muda perlu dilibatkan dalam hal ide……karena Muda dan tua punya kelebihan masing2.
- Muda (< 50 tahun) umumnya idenya cemerlang, tetapi belum pengalaman, muda juga kadang kebablasen, malah sombong. Kadang nekat
- Tua (> 50 tahun) biasanya idenya itu2 aja, yang kadang udah tak sesuai jaman. Tetapi menang pengalaman. Dan lebih membumi.
- Perpaduan kelebihan Tua-Muda itu yang dimodifikasi oleh pimpinan
3. Lakukan SWOT pada tiga hal yaitu masyarakat, warga muhammadiyah dan pimpinan tingkat manapun (ranting, sekolah, daerah dan ortom2nya). Bagaimana langkahnya, yaitu :
- Kerjasama dengan dosen UNS or UMS bidang social (atau psikologi) untuk melakukan survai dan penelitian ke semuanya itu (masyarakat, warga muhammadiyah, dan pimpinan). Kira2 judulnya bagaimana presepsi masyarakat or warga muhammadiyah,,,,dan seterusnya. Detilnya bisa dibicarakan bersama antara pimpinan – dosen bidang social (dan mahasiswanya)
- Berilah beasiswa Skripsi (Tugas Akhir) kepada minimal 3 orang mahasiswa untuk melakukan penelitian ini. Nanti hasilnya dia disuruh mempresentasikan dihadapan pimpinan. Itu berarti Muhammadiyah membantu mahasiswa berprestasi dan juga hasil tersebut bisa menjadi jejak langkah ke depan. Wong beli mobil aja bisa, Cuma ngasih beasiswa ke peneliti Muhammadiyah aja sulit.
- Hal ini bisa jadi langkah ‘pilot project’ perbaikan kedalam Muhammadiyah. Hal seperti ini kayaknya belum dilakukan oleh Muhammadiyah dimanapun
- Bila perlu langkah2 selanjutnya kita bisa kerjasama dengan guru2, tokoh2 muhammadiyah or mahasiswa yang berpotensi,…jadikan dia konsultan social. (kalau konsultan social tentunya tidak mahal kan,,,,,)
4. Anggap aja masyarakat dan warga muhammadiyah sebagai konsumen. Konsumen adalah raja. Bagaimana pimpinan sebagai pelayan yang sebaik2nya. Pimpinan harus tau dan juga mampu mengarahkan kemauan konsumen. See….liat buku2 banyak buku2 tentang kepuasan konsumen
5. Kembangkan perpustakaan Muhammadiyah, biar warganya melek buku….Saya sekilas survey tanpa sengaja ke beberapa pimpinan dan warga Muhammadiyah,,,ternyata buku2nya amat sangat sedikit. Rata2 bukunya sangat terbatas. La…agar warga pinter,,,,Muhammadiyah perlu memfasilitasinya.

Bagian III : Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat diambil adalah :
Mari bersama2 membedah diri masing2…..ya warganya….ya pimpinannya
Kalau warga secara kualitas dan kuantitas berkurang,,,,,,ya salah kita semua
Maka…………AYO BANGUN………….


Tentunya kiranya banyak hal yang masih luput dari tulisan ini. Bisa jadi hal seperti ini karena ketidaktauan saya tentang Muhammadiyah. Mungkin ada kalimat yang kurang berkenan dan tidak tepat, itu dari saya pribadi dan saya mohon maaf sebesar-besarnya sekali lagi atas tulisan saya ini. Saya sangat berharap tentang kemajuan Muhammadiyah karanganyar khususnya dan Muhammadiyah di Indonesia pada umumnya. Kata teman saya “orang yang tidak perhatian itu tidak sayang tetapi orang yang perhatian (bahkan kritis yang bukan menjatuhkan tetapi memberi masukan) malah sayang”. Terimakasih sebesar-besarnya.

Wassalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakaatuh

Bersambung lagi suatu saat,

Hormat kami,
Burhan Barid, warga tegalasri

Sabtu, 08 Desember 2007

Ada apa dengan 'Muhammadiyah'..seri 1

Ada apa dengan “Muhammadiyah” seri 1
Surat terbuka (September 2007)
Oleh Burhan Barid (pernah menjadi anggota IPM Karanganyar, tahun 80an)

Kepada :
- Pimpinan Muhammadiyah (PDM dimanapun), berlaku di seluruh Indonesia
- dan yang mengaku sebagai warga Muhammadiyah, siapa saja dan dimana saja


Assalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakaatuh

Pertama-tama saya memohon permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas tulisan ini. Mungkin tulisan saya ini agak berbeda pendapat dengan mas atau bapak-bapak semuanya tentang pemahaman ini. Memang pengetahuan saya tentang aspek muhammadiyah sangatlah terbatas apalagi detailnya pasti sangat-sangat terbatas, tetapi saya mencoba urun rembug. Secara khusus membahas perkembangan Muhammadiyah atau pemudanya sekarang. Memang kayak main bola,……saya bisanya hanya sebagai supporter kalau main bola pasti dak bisa. Tapi sepakbola nggak akan menarik kalau tidak ada supporternya. Walau supporter seperti saya bisanya ya…..gawe rame to…… isoe…tepuk2 – komentar - hu..hu…tepuk2 lagi ya itu tok. Tapi yang dikomentari ini hanya masalah umum dan esensi pendapat saya tok,…tidak sampai jauh-jauh.

Muhammadiyah sekarang (secara nasional atau daerah bahkan ranting) memang sudah tidak progresif lagi pendalaman keilmuannya dan sepak terjangnya. Makanya mengapa anak muda mulai mencari-cari kelompok lain (diluar muahammadiyah), bahkan anak-anak muhammadiyah pergi entah kemana. Hal tersebut tentunya juga berlaku juga di NA, Aisyiah, IPM, IMM dan pemuda Muhammadiyah.

Semua pembahasan ini hanya berdasar pemahaman dan pengamatan pribadi saya sendiri dengan analisis sesuai keterbatasan ketauan saya tentang apa itu muhammadiyah. Tentunya kalau ada yang tidak pas ya dari saya sendiri, yang sok jadi suporter.


Bagian I : Diagnosa versi saya

1. Muhammadiyah
Harusnya diagnosa ini tidak timbul asal ada langkah2 preventif. Karena langkahnya hanya stagnan aja maka kayaknya sudah aja penyakit, makanya timbul diagnosa. Namanya diagnosa… ya bisa benar bisa salah…… Tapi saya coba-coba saja mungkin ada yang pas. Tentunya apabila ada yang bisa kita cari bersama-sama obatnya apa ya……Saya dak tau juga kalik. Mungkin timbul dulu beberapa pertanyaan yang menggelisahkan saya misalnya :
a. Mengapa Muhammadiyah sekarang modelnya cuma kaya takmir,,,,kalau seperti itu semua bisa mimpin,,,,,gampang itu….asal ada pengajian ya bisa….Materi yang dibahas juga kaya’ takmir mesjid, tidak ada yang baru dan sangat membosankan. Paling pol ajang silaturohmi, itu masih mending. Koq masih konservatif ya…….
b. Kemudian timbul pertanyaan apakah memimpin muhammadiyah itu caranya sebaiknya kaya mimpin takmir or mimpin perusahaan (PT) atau ditengah2nya atau apa. Tentunya langkah tersebut memberi dampak yang berbeda ?
c. Mengapa anak2 muda muhammadiyah sedikit yang masuk ke muhammadiyah tetapi kalau masuk ke kelompok islam lain banyak,,,,,,la ini seharusnya muhammadiyah mengoreksi diri……bukan anti kelompok lain. Ada apa dengan muhammadiyah???
d. Memang anak muda sukanya nabrak-nabrak, itulah mungkin yang tidak disukai kaum tua, kaum tua yang maaf sukanya nostalgia. Yang muda kadang keilmuan agama ditabrak2kan, dan kemudian yang tua merasa aneh sehingga yang muda disisihkan or disalahkan. Akhirnya mereka yang muda cari panutan lain.
e. Jadi timbul pertanyaan lagi yang kurang tepat yang mana – Muhammadiyahkah? – yang tuakah ? – yang muda yang suka anehkah?. Harusnya semua itu dibedah kemudian dianalisis bersama. Sebenarnya secara pribadi orang muhammadiyah punya potensi yang bagus diluar sana, entah karena karirnya-pinternya-kayanya-or lainnya….rata-rata sukses, tapi begitu terjun di muhammadiyah koq jadi kurang sukses…..apa sistemnya ya,,,,??? Tentunya yang kurang tepat seperti saya ini ……dak ngerti detail muhammadiyah…..e koq ngomentari muhammadiyah.
f. Sebenarnya Masih adakah di Muhammadiyah dicabang bahkan ranting???
g. Kegiatan muhammadiyah masih bersifat mendadak, taktis dan seremonial belaka. Belum urut, simultan, terpadu terprogram dengan baik.
h. Andalan kegiatan masih terbatas pada pengajian konvensional. Dan materipun masih yang ituitu saja, bisa jadi ini yang membuat anak muda ya gitulah (maaf bosan). Materi pengajian, sebagian besar masih berupa doktrin2 Islam, padahal pemahaman lewat doktrin sudah tidak disukai oleh kawula muda hal tersebut dibuktikan buku2 agama yang laku keras adalah yang sama sekali tidak menyentuh doktrin tetapi yang laris adalah tentang bagaimana cara menikmati agama yang baik, tepat dan menyenangkan.
i. Mengapa Muhammadiyah masih dipandang hanya sebagai penerima upeti unit ekonomi dibawahnya atau bahkan upeti politik. Mengapa sudah setua (hampir 1 abad) ini belum bisa mandiri.
j. Masih relevankah saat ini konsep Kyai Ahmad Dahlan tentang ‘jangan cari hidup di………..dst……… Atau perlu dibuat konsep baru tentang kerja yang lebih professional. Wong namanya Kyai Ahmad Dahlan aja dalam bersikap bisa seprogresif itu pada saat itu. Mengapa penerusnya tidak ada yang progresif. Bahkan bila perlu pendapat beliau juga kita telaah lagi sesuai dengan jaman sekarang (itu juga perlu progersif)…..la gitu kadang sering disalahkan padahal maksudnya baik.
k. Mana sepak terjang muhammadiyah??....sangat jarang dilevel manapun??

2. Pemuda Muhammadiyah
Pemuda seharusnya sebagai ‘think tank’nya muhammadiyah. Tetapi dilevel manapun pemuda masih berkutat pada urusan jangka pendek (taktis) dan beberapa pemuda yang potensial kemudian lari ke politik atau bahkan keluar sama sekali.

3. Kurikulum Kemuhamadiyahan (khusus majelis pendidikan)
Materi Kemuhamadiyahan sama sekali tidak menarik, anak hanya diajari ilmu Muhammadiyah tidak diajari bagaimana bermuhammadiyah yang baik.
Konsep pendidikan kita seringnya anak dipaksa tahu segala hal. Pada mata pelajaran Kemuhammadiyahan ini seolah ingin diberitahu semua hal tentang muhammadiyah, seakan akan agar anak cepat dan mengetahui semua hal (jago) tentang muhammadiyah, padahal harusnya itu kan berproses. Beberapa catatan :
a. Kalau sepintas pada mata pelajaran Kemuhammadiyahan MI/SD dan SMA atau mahasiswa juga dapat seperti ini walau pendalamannya agak berbeda. Mohon jangan samakan anak SD dengan SMA.
b. Psikologi anak harusnya dikembangkan dan dibuat sekreatif mungkin mengenal muhammadiyah bukan dari lambang atau janji pelajar muhammadiyah yang harus urut dan dihapalkan lagi. Anak kan juga tidak akan faham untuk apa ngapalin lambang, itu namanya pendidikan yang kurang tepat. Harusnya kemuhamadiyaan itu softskill dimana anak dilatih ber infaq, dilatih berkunjung keteman yang sakit, dilatih kejujuran dan lain lain (esensi muhammadiyah adalah latihan langsung, bukan himbauan). Dengan seperti itu anak akan memahami wo…ternyata muhammadiyah itu berlatih kebaikan to……siiplah. Jadi ngapain belajar lambang ee..ternyata softskillnya kurang bagus. Memang mata pelajaran Kemuhamadiyahan ini menurut saya harus dirombak total sehingga menjadi menarik.
c. Harusnya tugas majelis pendidikan tidak berhenti pada rutinitas hardskill tetapi sekali2 perlu membedah isi materi pelajaran keislaman. Karena yang saya lihat terutama materi kelas 1 – kelas 3 SD/MI itu harusnya yang sederhana saja. Eh,,,disitu anak dipaksa belajar dengan amat sangat berat hapalan yang menurut saya tidak realistis. (lihat lampiran saya tentang pendidikan di Cina dan Jepang).
d. Bahkan kadang ada soal aneh yang ditanyakan “misal : janji bakti sama orang tua no urut brpa..…….’, itu pertanyaan lucu dan ramutu. (harusnya Ujian tidak ada soal seperti ini) Dan kalau anak jawab no 5 pasti disalahkan, padahal anak tahu walau tidak urut. Ini berarti dalam hafalannya boleh, tetapi hal kreatifitas kurang.

Bagian II : Beberapa Usulan

Sebenarnya langkah ini lebih sederhana daripada yang telah dilakukan selama ini. Karena pengurus hanya sebagai fasilitator. Mungkin pengurus hanya mengarahkan saja, karena sebisa mungkin semua dari – oleh dan untuk warga Muhammadiyah. Pengurus hanya mengatakan karena yang usul jenengan sendiri (warga) maka ya semua harus diTanting yang intinya demi keinginan dan kebaikan bersama. Sebisa mungkin semua dilakukan dengan iklas dan awalnya memang agak ebyek tetapi selanjutnya akan lebih mudah.
Beberapa langkah yang perlu dilakukan :


A. Kepemimpinan
Muhammadiyah bukan takmir, bukan PT(perseroan terbatas). Menurut saya lebih cocok sebagai sekolah besar. Dan fungsi pimpinan adalah sebagai Kepala sekolah dan jajarannya. Mengelola muhammadiyah lebih cocok seperti mengelola sekolah, yaitu setengah pengabdian setengah professional. Detailnya tentunya jenengan bapak2 sendiri yang lebih tahu.
Karena dianggap sekolah besar tentunya harus memiliki :
a. Ada visi dan misi
b. Ada langkah strategis dan taktis
c. Ada prioritas program (apa yang diunggulkan)
d. Ada Kurikulum Program yang jelas dan terstruktur. Bila perlu pengajianpun ada kurikulumnya
Pimpinan selain sebagai fasilitator bisa sebagai koki yang tepat dengan memanfaatkan segala potensi yang ada kemudian diracik sedemikian rupa sehingga menjadi enak untuk dimakan dan juga pas disajikan.

B. Program
Buatlah SWOT (oleh jajaran pimpinan) sekilas pandang yang telah dilakukan kemudian dianalisis secara kasar saja. Dan tentunya SWOTnya kedepan.
Buatlah survai kecil-kecilan apa sih sebenarnya keinginan warga Muhammadiyah itu. Tentunya survai ini bisa dilakukan dengan kuisioner atau semi musyawarah bersama. Bila perlu menghadirkan orang yang mampu membangkitkan keterbukaan apa yang diinginkan.
Kurikulum yang telah disepakati (bisa 1 tahunan or 1 semesteran) dilakukan dengan terstruktur. Kurikulum diperlukan agar saat mempersiapkan kegiatan –materi, waktu dan lain-lain akan tertata dengan rapi.
Program tahunan diprioritaskan pada hal tertentu saja (program unggulan). Ntar tahun berikutnya buat program unggulan yang lain. Dan seterusnya.

C. Pendidikan
Pendidikan sebagai dasar program Muhammadiyah. Sehingga hal ini harus dicermati secara detail, misalnya :
a. Apakah metodologi pada kurikulum kemuhammadiyahan dan keislaman yang lain masih pas untuk saat ini.
b. Bagaimana menyiapkan kader mendatang dengan cara yang menyenangkan dan mudah dilaksanakan sehingga sangat berkesan pada anak didik
c. Perlu kerjasama dengan orang psikologi, agar materi menarik dan cara pembelajarannya lebih pas.
Kader cenderung hanya ada saat anak didik sekolah di Muhammadiyah setelah mereka lulus, kader ilang plas. Perlunya materi2 yang menarik sehingga akan terkenang terus saat mereka sekolah di Muhammadiyah. Kalau hal tersebut dilakukan, suatu saat mereka akan menjadi penerus2 kita yang handal. Materi tersebut harus dirancang oleh pimpinan yang dibagian divisi pendidikan.
Perlunya pelatihan guru-guru, bukan hanya tentang pelatihan agama saja tetapi perlunya pelatihan psikologi anak-EQ dan lain-lain.
Perlu mengembangkan perpustakaan ‘Muhammadiyah’ (milik pengurus) yang berisi segala hal kelimuan duniawi maupun agama.
Pesantren kilat seharusnya lebih diprioritaskan pada pengembangan softskill.


Bagian III : Kesimpulan dan Target
Beberapa kesimpulan yang diperoleh,
Muhammadiyah adalah sekolah besar. Pimpinan seperti kepala sekolah dan guru-guru yang berfungsi menjadi guru dan fasilitator
Jangan dihabiskan waktunya dengan urusan rutinitas. Perlunya program dengan langkah yang strategis dan jelas.
Pendidikan adalah dasar kegiatan, karena sekolah besar maka harus mendidik kedalam dan keluar (masyarakat)

Mungkin ada kalimat yang kurang berkenan dan tidak tepat, itu dari saya pribadi dan saya mohon maaf sebesar-besarnya sekali lagi atas tulisan saya ini. Saya sangat berharap tentang kemajuan Muhammadiyah karanganyar khususnya dan Muhammadiyah di Indonesia pada umumnya. Kata teman saya “orang yang tidak perhatian itu tidak sayang tetapi orang yang perhatian (bahkan kritis yang bukan menjatuhkan tetapi memberi masukan) malah sayang”. Terimakasih sebesar-besarnya.

Wassalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakaatuh

Bersambung suatu saat,

Hormat kami,
Burhan Barid

Kamis, 18 Oktober 2007

SEBAB AKIBAT*

Sebab adalah suatu perbuatan yang dilakukan dalam mengawali suatu kegiatan. Sebab berupa langkah-langkah tertentu misalnya sebab kita bekerja maka akibatnya dapat uang. Sedangkan akibat adalah buah daripada perbuatan awal yang kita lakukan. Banyak orang tidak memahami filosofi sebab akibat ini. Kalaupun memahami hanya sebab akibat sesaat…….apakah sebabnya….atau kalaupun memahami banyak yang kurang tepat…..mengapa……Perlu pemahaman bahwa hidup sebenarnya tidak terputus – diri – keluarga (keturunan) – masyarakat dll
Sebab-akibat dapat berlangsung jangka sesaat-pendek-menengah atau panjang. Misalnya :
Sebab jangka pendek
Orang naik motor sembrono kemudian jatuh. Besok ujian belajar tidak giat nilainya jeblok
Sebab akibat jangka menengah. Ini dapat dilihat pada kejadian fisik dan non fisik.
Ø Orang sakit, mengapa dapat sakit. Orang yang (sebab) kurang orahraga – gizi tidak terjaga – banyak pikiran maka suatu saat ada kmungkinan kena penyakit)
Ø Bencana alam. Banjir. Banyak orang sekarang memandang banjir karena akhlak. Bencana alam telah merenggut banyak nyawa,,,pertanyaannya apakah karena moral atau hanya fenomena alam biasa. Menurut saya bukan karena akhlak (moral) tetapi perilaku (aklhlak) tidak menghargai alam. Contoh sederhana buang sampah, kalau tidak tepat mungkin sebagi dosa kecil karena apa nanti akan berkumpul bersama jutaan sampah lainnya dan kemudian banjir, juga apabila membuang pad tempatnya tentunya resiki banjir akan terkurangi, dan mungkin dapat pahala2 kecil.
Sebab akibat jangka panjang Secara fisik atau spiritual
Ø Misalnya keturunan. Kacang ora adoh karo lanjarane. Buah anak karena yang nanam orang tua (sampai baligh). Namanya nanam itu bisa ilmu-ketrampilan atau akhlak. Dan akhir anak sangat tergantung metode, cara menanam, apa pupuknya, apa selalu disiram dan lain lain. jadi kalau anak kurang bagus (akhlaknya) pasti ada yang salah dari orang tuanya (koreksi sendiri) (Seperti saya ini belum terbukti, masih coba2). Kalau nanam ilmu dapat ilmunya kalau akhlak yang dapat akhlaknya begitu juga ketrampilan. Menanam yang baik, khususnya akhlak adalah contoh. Sebenarnya bagaimana orangtua dapat dilihat dari anaknya missal seorang kyai koq anaknya beling yang mesti ada yang salah dengn kekyaiannya (kecuali itu memang cobaan, seperti kasus nabi nuh). Jadi kadang kemudian saya iseng-iseng apa mungkin sebenarnya semua itu (syurga-neraka) sebenarnya sudah terlihat didunia, dan akherat hanya bonusnya saja).
Ø Bangsa, Belajarlah sejarah. Mengapa bangsa kita menjadi seperti ini.
Apakah sebab baik mesti akibatnya baik, mungkinkah sebab baik akibatnya kurang baik. Begitu pula sebab buruk akibatnya dapat baik. Secara umum sebab baik mesti akibatnya baik, kalaupun sebab baik kok akibatnya kurang baik maka hal tersebut lebih banyak karena andil Tuhan (cobaan) karena (kata sinetron KSD) Tuhan mempercayakan cobaan kepada umat yang sangat disayanginya,,,,kalau kuat ya pasti dapat point yang besar nantinya.
Khusus keluarga, bagaimana kalau sudah terlanjur. Belum ada kata terlambat. Langkahnya adalah :
1. Putus dengan akibat yang lama (yang tidak baik), karena biasanya bisa menular
2. Buat sebab2 yang baru (yang baik) misalnya berbuat baik – belajar yang baik – buat ketrampilan yang baik (rajin), jangan harapkan akibatnya (ikhlas), karena akibat akan datang dengan sendirinya.
3. Pahamilah bahwa hidup adalah menerus, perbaiki dan perbaiki, coba dan coba.
Ya….apabila akibat didunia gak ada ya tunggu aja di akhirat………………piye meneh.. ,he,,,he,,
Burhan Barid*

Rabu, 17 Oktober 2007

ANTARA JAM 06.00 SAMPAI JAM 07.00 PAGI YANG PENUH TOLERANSI YANG SALAH KAPRAH

Suatu pagi yang cerah, hari senin di salah satu perempatan bagian barat yogya, yang pada jam itu yang dilewati ratusan motor dan puluhan mobil. Kendaraan tersebut bergerak menuju pusat kota dengan tujuan yang sama yaitu sekolah atau bekerja. Setiap orang ingin sampai pada jam yang sama dengan memanfaatkan waktu yang sempit. Sehingga setiap orang ingin berlomba-lomba asal tidak terlambat sampai tujuan, dengan sedikit mengindahkan orang lain, aturan lalulintas dan budaya tertib.

Kejadian umum
Kejadian tersebut sebenarnya merupakan fenomena setiap pagi, pada jam kerja, di setiap titik jalan kota Yogyakarta ataupun kota lainnya. Fenomena ini dilakukan setiap orang dengan sengaja atau tidak sengaja. Beberapa kejadian yang sempat teramati misalnya anak yang diantar orang tua sekolah dengan sepeda motor tidak pakai helm, berboncengan lebih dari dua orang, melanggar lampu merah detik pertama, antri bukan pada jalurnya, dan lain-lain. Ketaatan yang terabaikan, asal diri sendiri, tidak memperdulikan sekitarnya.

Analisis kejadian
Kejadian tersebut hanya kisah di pagi hari, dimana setiap orang ingin bekerja atau belajar. Sepenggal kisah ini dapat membuyarkan pola aturan pendidikan yang akan didapatkan pada jam-jam berikutnya. Anak sekolah selalu dianjurkan datang tidak terlambat, dan aturan-aturan yang lain. Gambaran kontras yang ada di jalanan dengan yang di sekolah akan membuat gundah hatinya. Karena pembelajaran di jalanan sesuatu yang mudah dan cepat untuk dicerna. Pembelajaran ini terjadi secara alami dengan menggunakan atas nama tidak boleh terlambat sampai sekolah atau kantor. Yang mula-mula dilihat, dirasakan, kemudian dilakukan sebagai sesuatu yang biasa. Sebagai suatu yang biasa menjadikan bahwa melakukan tersebut tidak salah.

Menerapkan disiplin tidak terlambat di sekolah dengan mengabaikan disiplin jalanan dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang tidak memasukkan unsur keterpaduan pola pikir manusia, tetapi hanya memasukkan unsur disiplin parsial saja.

Yang kemudian mungkin suatu saat akan pula diterapkan oleh generasi berikutnya suatu saat nanti. Kejadian tersebut hanya merupakan sepenggal kisah kebebasan yang berlebih atau dapat dikatakan toleransi salah kaprah yang dilakukan tanpa aturan yang ketat. minimal enam hari dalam seminggu.
Melatih disipiln diri tetapi tidak melatih disiliplin sistem

diajarkan kedisiplinan dalam hal tugas atuapun aturan-aturan sekolah, begitu pula bagi yang di perkantoran atau pabrik.

Pembelajaran budaya di jalanan yang cepat berubah menuju arah negative membuat pendidikan sekolah yang memberikan etika keteraturan, menghargai orang, ketaatan dan antri terasa kurang ada artinya. Pola pendidikan sekolah yang melakukan penilaian budaya tersebut dalam kurikulum, tentunya belum banyak menyentuh aspek kejadian-kejadian di lapangan. Sehingga membuat bangsa ini banyak kehilangan budaya-budaya positif tersebut. Pada masa lalu, pembelajaran lebih banyak diperoleh dari budaya keluarga dalam melakukan pembudayaan generasi

Kedisiplinan di sekolah yang menyenangkan
…………..bagaimana tuuu

Pembelajaran tentang Toleransi pada ketidaktaatan yang salah kaprah. Pembelajaran Langsung dari ketidakdisipilan………bagaimana tuuu